Sikap Menasehati (Belajar dari seorang ibu yang tak dikenal)
Suatu hari, saya berada di daerah wisma BNI Sudirman dan akan berjalan menuju ke Sudirman Walk, daerah Setia Budi. Waktu itu masih sangat pagi dan jalanan Jakarta pagi itu seperti biasa, Macet. Motor dan mobil saling menyalip mendapatkan tempat di jalan, tak ketinggalan pula bangkai baja yang besar berisikan puluhan orang berkemeja berhenti di setiap pinggiran jalan sehingga menambah kacau kondisi jalan. Saya tak peduli, saya berjalan secepat mungkin semakin lama saya berada di tepian jalan yang kacau, saya semakin banyak menghirup gas-gas buangan kendaraan ini. Untungnya, jalan Jend.Sudirman memiliki area perjalan kaki yang cukup luas, sehingga kita tidak perlu turut ikut dalam kekacauan jalan raya.
Namun tidak berapa lama saya berjalan, tiba-tiba di depan saya datang segerombolan motor. Mereka memacu kendaraannya persis di jalan yang sama seperti jalan yang saya lewati. Seketika itu pula, saya merasa kesal dengan apa yang mereka lakukan. Area pejalan kaki yang tadi saya rasakan luas, sekarang memojokkan saya ketepian pagar. Saya terganggu tentu saja, hak-hak saya direbut oleh kesemena-menaan pengendara motor. Dalam keadaan itu, saya berhenti sejenak ditengah, kemudian berpikir. Apa yang akan saya lakukan? Menyetop mereka kemudian menasehati? Atau tiba-tiba menghadang mereka terus marah-marah? Atau cukup sekali tendangan sampai mereka tersungkur? Saya harus mengambil sikap atas apa yang mereka lakukan, namun saya tidak tahu mana jurus yang paling tepat untuk saya lakukan. Saya kebingungan.
Kebingungan saya tersebut hampir sama dengan sebuah cerita yang pernah diceritakan oleh Indonesia – Anonymous dalam bukunya Kopi Merah – Putih.
Alkisah dalam sebuah bus yang berisikan banyak penumpang. Terdapat dua orang pemuda yang saling bercerita. Mungkin karena begitu asiknya bercerita, secara tidak sadar, suara mereka begitu keras terdengar. Dan tidak hanya keras, namun terkadang percakapan mereka juga diisi dengan tertawa terbahak-bahak. Dalam keadaan seperti itu, suasana bus menjadi riuh dengan dua pemuda tadi. Hampir semua penumpang terganggu dengan keadaan itu. Seorang bapak yang duduk persis di depan pemuda tersebut hanya bisa berdehem beberapa kali, memberikan sinyal terganggu. Kedua pemuda itu tidak menyadari. Kemudian seorang ibu yang duduk di seberang kedua pemuda tadi, menatap mereka dengan sinis. Terlalu asiknya mereka berbicara, sampai-sampai mereka tidak merasakan suasana bis yang sudah demikian terganggu.
Di sudut yang lain, ada dua orang pemuda yang tidak kebagian tempat duduk. Mereka memperhatikan dua orang pemuda yang tertawa-tawa ini tadi. Pemuda pertama berkata ke pemuda kedua , “Heh, tolong kamu ingetin itu dua pemuda yang berisik. Suruh diem!” Pemuda kedua berkata “Aduh kenapa gak kamu aja yang ngomong? Kenapa mesti aku?” Pemuda pertama “Aduh buruanlah. Kamu aja!” Akhirnya pemuda kedua pun manut atas kehendak pemuda pertama. Ia datang kepada kedua pemuda yang tertawa terbahak bahak tadi.
Kondisi pemuda yang datang itu sama seperti kondisi saya disaat berada diantara pengendara motor yang naik ke trotora. Apa yang harus saya katakan?
Pemuda kedua, yang mendatangi 2 orang pemuda itu memiliki 3 pilihan. Pertama, ia akan datang menegur dua orang pemuda. Ini adalah pilihan yang sesuai dengan tujuan kedatangannya tadi, ketika melihat seseorang yang salah ia dengan cepat menegur. Yang kedua, ia akan datang kepada pemuda, bertanya sedikit lalu secara tidak sadar ia kemudian ikut bercerita bersama dua pemuda tadi. Ini adalah bentuk kompromi, ketika sebuah pelanggaran dirasa nikmat. Kita kompromi. Yang ketiga, pemuda tadi berjalan ke arah dua orang pemuda yang bercerita lalu lewat saja. Pemuda tadi memilih diam dan tidak jadi menegur. Ia menyimpan perasaan kesal, terkadang pula menggunakan teknik “berdehem” dan terkadang “menatap dengan pandangan sinis”
Untuk Indonesia sendiri, selama saya dilahirkan, tinggal dan dibesarkan. Pilihan terbanyak yang saya temukan dalam kondisi seperti ini ialah pilhan ketiga. Ketika kita melihat seseorang yang melanggar, kita hanya bisa mengutuk-ngutuk dalam hati, menatap sinis, membicarakan kesalahan mereka dihadapan teman-teman, serta memberikan sinyal-sinyal tak umum seperti “berdehem atau batuk”, berharap mereka bisa mengartikan sinyal ini. Sangat sedikit diantara kita, indonesia untuk datang dan menegur seseorang. Pilihan ketiga ini adalah pilihan rancu, dimana ada kebenaran yang bercampur dengan ketidak pedulian. Terlebih lagi yang perlu digaris bawahi besar-besar bahwa memilih pilihan ketiga tidak akan merubah keadaan apapun.
Apa dampak dari banyaknya pilihan dibentuk ketiga?
Ketika kita melihat seringnya kita memilih pilihan ketiga, keadaan yang kemudian tidak kita senangi ini pun lama kelamaan berubah. Kita terbiasa! Pilihan ketiga, akan membawa kita dalam tindakan pada pilihan kedua. Alih-alih kita terus “berdehem” terhadap pelanggaran, kita pun menjadi orang yang ikut serta dalam pelanggaran tersebut. Pemuda yang diutus tadi menjadi ikut larut bercerita dan tertawa-terbahak bahak. Saya ketika mengendarai motor, akan berada dalam rombongan pengendara yang melanggar. Memilih pilihan ketiga, akan berakibat seperti keadaan ketiga. Turut serta dalam pelanggaran. Pengabaian berubah menjadi keikutsertaan. Berdiam diri menjadi sebuah bentuk ketidak berdayaan yang kemudian ditransformasikan ke sebuah tindakan “Dari pada makan hati denger cerita orang terbahak bahak mending saya bercerita sama kerasnya dengan dua pemuda tadi“. Begitupun para pengendara motor di jalan sudirman, kedongkolan terhadap kemacetan yang luar biasa merubah idealisme taat perataturan menjadi tindakan “Dari pada saya sendiri yang telat masuk bekerja“. Akhirnya, pelanggaran menjadi sebuah tindakan mayoritas di sebuah negara yang menjunjung nilai keadilan banyak nya nilai suara ini (demokrasi). Ironis.
Ada ungkapan yang sangat bagus mengenai sebuah nasehat yang pernah disampaikan oleh Al-ustad Maududi Lc di sebuah ceramah di Mesjid Al-ittihad.
Mengajak ke kebaikan (Amar Mar’ruf) dan Melarang kemungkaran (nah’yi munkar) itu harus lah seimbang. Tidak boleh berat sebelah. Kita tidak boleh hanya menyampaikan yang ma’ruf saja tetapi lupa melarang yang mungkar. Dan ingat lah! cobaan dakwah ini , beratnya jalan dakwah ini dimulai ketika seorang pendakwah menyampaikan kemungkaran yang dilakukan ditengah tengah manusia, melarang mereka berbuat yang haram! Disinilah, penceramah mulai kehilangan jamaahnya, mulai tidak disenangi, mulai dijauhi.
Ketika itu, dalam kondisi hiruk pikuk motor. Saya memilih untuk diam dan terus melanjutkan perjalanan. Menahan rasa kesal di dalam dada dan terus berjalan. Ingin rasanya saya memberhentikan mereka kemudian menasehati. Bahkan lebih, saya ingin sekali memarahi mereka akibat tindakan mereka tersebut. Namun mulut saya kaku untuk menasehati. Mental saya masih terlalu lemah untuk memberhentikan pengendara motor. Badan besar tidak menjamin kita menjadi seorang berani. Dan kejadian itu teringat kembali saat ini ketika saya melihat seorang ibu paruh baya, berbaju batik sambil menenteng tas. Berjalan di jalan yang tidak jauh dari tempat dulu saya berjalan. Mengalami kondisi yang sama seperti yang saya rasakan dahulu. Namun mengambil pilihan yang tidak saya pilih. Pilihan nomer 1. Inilah sebuah sikap sebenarnya, berbuat jujur pada kebenaran.
Terimakasih saya buat ibu ini karena telah mengingatkan saya kembali kepada kesalahan tindakan saya. Saat saya melupakan untuk melarang yang mungkar.
Kita negara yang mengagungkan kebebasan bersuara tapi bisu terhadap pelanggaran. Sampaikanlah nasehat, sekalipun nasehat itu berat untuk kita ucapkan dan pahit untuk didengar. Mari mencoba..
Referensi :
Kisah 3 orang pemuda dapat dibaca di buku Kopi Merah Putih
Foto ambil dari sini
