Kesehatan : “Mencegah itu lebih baik”
Ketika berbicara pengobatan, maka perhatian kita telah tertuju pada sebuah sisi fundamental kehidupan yaitu kesehatan. Berbicara kesehatan kita akan menganalisis mengenai penyakit-penyakit yang berkembang, obat-obatan, para dokter dan rumah sakit, jaminan kesehatan dan asuransi dan sebagainya. Berbicara mengenai kesehatan, berarti mengambil sebuah pokok pembicaraan yang penting untuk terus kita diskusikan. Bukankah kesehatan merupakan faktor fundamental sebuah negara? Rakyat yang sehat akan memacu produktifitas suatu bangsa, dan rakyat yang sakit akan menurunkan produktifitas bangsa tersebut.
Saya sendiri bukan lah seorang yang ahli dalam kesehatan, bukan seorang dokter atau pula pakar yang telah banyak mengulas masalah kesehatan di negeri ini. Saya hanya mencoba memberikan sedikit alternatif dari sebuah keruwetan permasalahan kesehatan yang hampir sama di sebuah negara. Permasalahan kesehatan tersebut antara lain: biaya rumah sakit yang begitu tinggi, obat-obatan yang mahal, ketidak mampuan pasien dalam membayar, dana askes yang macet, praktek kerja sama obat dan dokter dan segala permasalahan yang lain. Kesehatan sendiri bukanlah hal yang bisa dilewatkan begitu saja, dan menunggu agar waktu bisa menyembuhkan permasalahannya. Menyelesaikan permasalahan kesehatan sama seperti mengurai benang kusut, membutuhkan kesabaran untuk mengurainya satu per satu hingga ketika benang terurai, barulah wajah benang itu kelihatan indah. Begitu juga dengan kesehatan, mengentaskan permasalahan kesehatan bukanlah persoalan yang mudah. Saya hanya membantu untuk mengurai “gulungan kusut” yang pertama.
Mencegah lebih baik dari pada mengobati
Saya ingat ketika suatu hari saya sakit demam, dan harus beristirahat di rumah. Ketika itu orang tua saya akan menghampiri, dengan sebuah kalimat wejangana “mencegah itu lebih baik dari pada mengobati”. Lebih baik tidak minum es, dari pada harus berbaring di rumah sakit beberapa hari karena harus operasi amandel. Lebih baik menjaga minum vitamin C sebelum sariawan meradang dan menyulitkan kita untuk menikmati makan-makanan enak. Semboyan “mencegah lebih baik dari pada mengobati” ini tentu sudah menjadi sebuah motto hidup nya mereka yang pernah terbaring sakit. Penggunaan semboyan seringkali ditujukan untuk pasien, mereka yang sakit. Namun pernah kah terpikir kepada kita, bagaimana jika semboyan ini kita terapkan di aparat kesehatan sebagai sebuah bentuk tindakan nyata?
Perawatan kesehatan konvensional berusaha menundukkan kematian, mengabaikan komunitas, menyalahkan korban, mendorong pasien menjadi pasif dan tergantung, dan bersikap masa bodoh terhadap lingkungannya
-Dr. Hunter Campbell “Patch” Adams, Patch Adams hal 68-
Dalam sebuah sistem kesehatan saat ini, jika kita mengalami sakit maka tindakan pertama yang dilakukan seorang dokter adalah mendiagnosa penyakit. Kegiatan diagnosis ini akan selalu berhubungan dengan peralatan laboratorium. Semakin canggih peralatan yang dimiliki oleh sebuah rumah sakit, maka semakin akurat penentuan diagnosa sebuah penyakit. Keyakinan pasien terhadap kesehatan didasarkan pada peralatan – peralatan yang dimiliki oleh rumah sakit. Oleh karenanya, banyak saat ini rumah sakit kemudian berlomba-lomba untuk terus memperbarui peralatan medis mereka. Tentu saja, penggunaan peralatan medis yang demikian canggih sangat membantu pelaksanaan diagnosis, namun peralatan yang canggih tersebut tentu berbiaya mahal (menaikkan biaya rumah sakit) dan hanya sanggup dipenuhi oleh beberapa golongan pasien saja. Sementara penyakit datang tidak kenal pandang bulu, bagaimana jika yang butuh didiagnosa ternyata orang tidak mampu? bagaimana jika ia tidak mampu membayar, apakah ia ditelantarkan? Kalau sedemikan bergantungnya sebuah penyakit dengan teknologi, bagaimana wajah kesehatan di masa depan?
Sistem kesehatan kita telah gagal dalam mencegah orang sakit
Demikian majunya teknologi kesehatan mendorong peningkatan biaya rumah sakit. Rumah sakit yang memiliki peralatan canggih tentu diiringi oleh pembebanan biaya yang mahal terhadap pasien. Rumah sakit kemudian berlomba – lomba untuk terus mengadakan dan melengkapi peralatan medis mereka, para dokter semakin terbuai dengan alat-alat yang demikian praktis sementara pasien, semakin tercekik oleh harga pengobatan yang demikian tinggi. Miris bukan?
Rumah sakit bertahan dan makmur saat orang-orang sakit. Rumah sakit tidak dirancang untuk berkembang dengan tempat tidur kosong sementara orang-orang sehat.
Wajah kesehatan selama ini terpalingkan oleh manisnya perkembangan teknologi. Alih-alih ini membuat wajah kesehatan semakin baik, yang terjadi permasalahan semakin meningkat. Fokus terhadap teknologi kesehatan medis tidak sepenuhnya benar. Membuang dana jutaan dollar hanya untuk beberapa alat , saya anggap terlalu boros. Apakah dengan membeli peralatan, jumlah penduduk yang sakit berkurang? Apakah dengan membeli peralatan kesehatan, kesehatan seluruh warga bisa dijamin?
Gulungan kusut pertama : Pencegahan
Para praktisi kesehatan tentu sudah tahu oleh semboyan ini, “mencegah lebih baik dari pada mengobati”. Namun sayang, semboyan ini hanya sebuah peluru nasehat, yang dilemparkan oleh pihak penyelenggara kesehatan terhadap pasien terbaring sakit. Seharusnya, semboyan ini merupakan “darah”nya para praktisi kesehatan. Dengan begitu, perhatian dunia kesehatan bukan berfokus pada pengobatan melainkan pada pencegahan. Alih – alih bersiap menunggu kedatangan pasien, seharusnya seluruh aparat kesehatan berusaha agar rakyatnya tidak ada yang harus masuk ke rumah sakit.
Pendekatan perawatan kesehatan yang efektif akan memusatkan perawatan pada pusat-pusat kesehatan dan program-program kesehatan setempat.
Ketika rumah sakit dan aparat kesehatan berfokus pada sistem perawatan penyakit, (dengan menggunakan obat-obatan, teknologi serta dokter-dokter ahli), sistem ini akan berorientasi pada laba yang diraup sebesar mungkin serta jual – beli produk kesehatan. Banyak sekali sebagian dokter yang kemudian menjadi demikian terikat dengan sebuah perusahaan obat dan harus menghabiskan jumlah tertentu dari obat tersebut. Efeknya, obat itu menjadi sebuah target penjualan yang dicapai perusahaan dengan salesnya dokter. Korbannya ialah pasien itu sendiri, berupa efek samping yang didapat dari obat tersebut serta biaya yang dikenakan. Hal ini merupakan wajah kelam dari dunia kesehatan saat ini.
Sistem yang berfokus pencegahan adalah sistem yang berorientasi pada pelayanan agar penduduknya selalu sehat. Sistem pencegahan adalah sistem yang mengutamakan pembentukan lingkungan sehat.Contoh beberapa pembentukan lingkungan sehat seperti :
1. Penyediaan makanan-makanan sehat bagi masyarakat.
Program ini dapat dijabarkan menjadi beberapa kegiatan kecil seperti pengawasan terhadap produk yang membahayakan, racun kimia yang terdapat makanan, pengontrolan dan pengawasan gizi makanan.
2. Membangun lingkungan sehat untuk masyarakat
Program ini bisa saja dijabarkan seperti : pembangunan taman kota sebagai tempat rekreasi, olah raga dan taman hijau, pengurangan polusi dengan pengaturan limbah industri serta kendaraan, penghijauan kembali daerah perkotaan, membangun sarana pejalan kaki dan pesepeda dan lainnya
3. Membangun komunitas hidup sehat
Program ini bertitik berat pada interaksi individu masyarakat, saling berbagi, melakukan komunikasi yang intensif, serta kegiatan – kegiatan sosial lainnya.
Intinya, pendekatan pencegahan berfokus kepada peningkatan kualitas hidup, melindungi masyarakat dari “musuh penyakit”, meningkatkan perawatan mandiri, dan menerima sebuah kematian jika tidak dapat dihindari lagi. Model ini merupakan model pencegahan kesehatan yang telah terbukti manjur. Dr. Hunter Campbel “Patch” Adams, ialah orang yang merancang model pencegahan dan peningkatan kualitas hidup ini.
Berfokus kepada tindakan – tindakan pencegahan merupakan sebuah tahap yang penting dalam mengurai benang kusut ini. Di Indonesia sendiri, jalanan penuh dengan asap kendaraan, bangunan pencakar langit mulai mendominasi, ruang gerak sempit serta makanan-makanan tidak sehat dan cepat saji terus berkembang. Alih-alih kita menjaga diri sehat, lingkungan di sekitar kita seakan-akan berusaha mendorong kita untuk hidup cara yang tidak sehat kita sadari ataupun tidak. Kita menjadi semakin sedikit berolahraga, terlalu banyak berdiam diri di sebuah ruangan berAC, tidak terkena matahari, sedikit berinteraksi dengan komunitas dan individualistis adalah hal-hal yang mendorong berbagai penyakit pada diri kita. Kondisi lingkungan seperti ini merupakan jalan yang besar untuk kita lalui yang berujung kepada rumah sakit dan pengobatan.
Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Ketika kita telah berusaha keras, namun pada akhirnya kita tetap sakit. Ada secercah rasa pasrah terhadap aturan tak terlihat dan menerima kenyataan dengan lapang dada atas kekuatan dari Dzat yang Tak Tampak. Kita telah berusaha, itu yang terpenting.
Referensi :
Dr Hunter Campbell “Patch” Adams & Maureen Mylander. Patch Adams. 2008
