Skip to content

Hal kecil yang membawa perubahan besar; Sebuah Pelanggaran

December 29, 2011

Tahun 1980-an, merupakan tahun yang kelam dalam sejarah per-kereta apian di New York City.  Selama di tahun tersebut telah terjadi rata-rata lebih dari 2000 pembunuhan dan 600.000 tindakan kekerasan serius dalam setahun. Kereta api menjadi sebuah momok yang menakutkan, stasiun peron gelap dan mencekam, berbau lembap serta setiap dinding kereta dipenuhi oleh coretan-coretan (grafitti).  Disaat itu, kereta api bawah tanah sebagai sebuah transportasi utama masyarakat new york , menjadi sebuah momok yang menyeramkan. Menyadari akan hal itu, New York Transit Authority, sebuah lembaga perkereta-apian kota tersebut menyewa seorang konsultan, untuk mengatasi permasalahan perkereta-apian bawah tanah. Dia adalah David Gunn, yang menjadi direktur proyek rekonstruksi pembangunan sistem kereta api bawah tanah.

Di masa itu, banyak pejabat-pejabat direktoran perkereta-apian memberi masukan kepada David Gunn, agar memusatkan perhatian kepada penerapan sebuah sistem yang andal dan tidak memusingkan perkara-perkara kriminal kecil, seperti coret-coret grafitti. Menurut mereka, mempermasalahkan masalah-masalah kecil seperti grafitti merupakan hal konyol, yang diibaratkan oleh Malcolm Gladwell sama seperti mengepel geladak kapal Titanic ketika kapal tersebut hampir menabrak gunung  es. Tindakan yang sia-sia.

Akan tetapi Gunn tetap pada pendiriannya, ia berkata;

Corat – coret grafitti merupakan simbol ambruknya sistem ini. Apabila anda ingin membenahi organisasi berikut moralnya, anda harus mampu mengalahkan aksi corat-coret ini terlebih dahulu. Sebelum memenangkannya, reformasi manajemen dan perbaikan fisik akan sia-sia.

Kita ingin menambah kereta baru yang harga per buahnya 1o juta dollar kecuali jika kita mampu melindungi kereta-kereta tersebut. Jika tidak, kereta tersebut hanya berumur satu hari, dan selanjutnya….. Vandalisme!

David Gunn mengerjakan proyek perbaikan ini selama sepuluh tahun. Selama itu, ia tidak memperbaiki sistem apapun ataupun melakukan reformasi ditingkat manajemen. Selama 10 tahun, yang ia lakukan ialah mengecat gerbong. Proses pembuatan grafitti itu biasanya memakan waktu tiga hari, dan ketika hari pertama, anak-anak akan mulai mengecat bagian dasar dari grafitti maka malamnya petugas kereta api akan datang untuk mengecat kembali apa yang telah anak-anak lakukan. Pesan Gunn terhadap aksi vandalisme ini sangatlah gampang, “Gerbong tidak boleh kotor!”

Pada awalnya, ada sebuah kemarahan yang besar dari para vandal tersebut. Namun aksi-aksi mereka semakin sia-sia dan lama-kelamaan mereka berhenti dari mencoret-coret gerbong. Setelah 10 tahun, yakni di tahun 1990 kereta api bawah tanah telah bersih dari corat-coret grafitti. Hasilnya, ditahun 1990, angka kriminalitas di New York menurun drastis. Kasus pembunuhan berkurang 2/3 serta kasus kekerasan berkurang separuhnya. Sebabnya, kereta telah menjadi sebuah tempat yang nyaman, tidak gelap dan tidak juga lembap.

Tindakan pembersihan dan efek kriminalitas yang terjadi di kota New York merupakan sebuah teori kriminalitas, yang dikenal dengan teori Broken Windows. Broken Windows ini merupakan teori yang digagas oleh pakar kriminolog, James Q Wilson dan George Kelling. Mereka melihat teori broken windows itu seperti ini;

Kriminalitas merupakan akibat tak terelakkan dari ketidakteraturan. Jika sebuah jendela kaca rumah pecah dan dibiarkan saja, maka setiap orang yang lewat akan menyimpulkan rumah tersebut tidak berpenghuni atau juga tidak ada yang peduli terhadap rumah itu. Dalam beberapa waktu yg singkat, akan ada lagi jendela rumah tersebut yang pecah. Dan belakangan, akan berkembang sebuah aksi anarki yang menyebar di sekitar tempat itu. Orang-orang mulai masuk ke rumah dan mencuri. Mabuk-mabukan di dalam rumah itu, sampai hingga membakar rumah itu.Menurut teori ini, kejahatan itu bersifat menular.

Kejadian di New York pada tahun 1980-an merupakan pelajaran yang berharga buat Indonesia sendiri. Dimana kriminalitas yang terjadi sudah demikian banyaknya dan tidak terbendung lagi. Bahkan aparat-aparat yang seharusnya bertindak untuk mengamankan pun telah menyatu dalam kriminalitas tersebut. Kita sendiri melihat sebuah ketidakteraturan di Indonesia. Kita lihat sekarang ini, mayoritas berita berisi kriminalitas. Bahkan, beberapa program televisi kini ada yang khusus untuk memaparkan berita kriminalitas di Indonesia. Buruknya lagi, kriminalitas menjadi sebuah hal yang lumrah terjadi.

Percayalah, ketidak teraturan yang kita lihat sekarang ini, merupakan hasil dari ketidak pedulian terhadap hal-hal kecil.

Contohnya didekat rumah saya sendiri, ada sebuah jalan satu arah yang melewati sekolah dasar dan sekolah menengah. Jalan tersebut dibuat satu arah karena ruasnya yang kecil namun jalan itu banyak dilewati oleh pengguna jalan. Akhirnya jalan tersebut kemudian dibuat melingkar  sehingga sedikit membuat jauh bagi para orang tau murid yang ingin mengantar anak-anaknya sekolah. Maka entah siapa yang memulai, satu per satu sepeda motor mulai berjalan melawan arah, melanggar tanda “dilarang masuk”. Tidak pernah satupun dari mereka yang melanggar aturan ini ditangkap oleh aparat lalu lintas. Hasilnya, saat ini jalan yang satu arah tersebut terlihat seperti jalan dua arah. Inilah dia teori broken windows tersebut.

Menariknya, jika kita mau melihat lebih dalam lagi. Teori ini ternyata tidak hanya terjadi dalam sebuah lingkup sistem. Teori ini juga terjadi dalam lingkup pribadi individu. Maka jika sebuah pelanggaran dari individu tidak dikoreksi, ini akan mengacu kepada pelanggaran-pelanggaran yang lain.  Boleh kita saksikan saat ini di sekitar masyarakat kita: kebanyakan mereka yang pemabuk , juga sebagai pembuat onar, pelaku seks bebas, pelaku pelanggar lalu lintas. Mereka yang korupsi tidak hanya sebagai koruptor, tetapi juga sebagai tukang suap, pembohong, bermuka dua, penjilat dan hal-hal buruk lainnya.  Dalam teori yang lain, 80 persen kejahatan yang terjadi disebabkan oleh 20 persen pelaku kejahatan. Artinya, yang membuat kriminal orangnya itu-itu saja.

Sebab awalnya ialah ketidak pedulian terhadap pelanggaran yang dilakukan. Baik itu pelanggaran diri sendiri atau pelanggaran kelompok sistem.

Pelanggaran yang tidak dikoreksi sedini mungkin, merupakan pemicu dari pelanggaran-pelanggaran besar yang akan terjadi.

Maka jika anda mulai mengabaikan pelanggaran yang anda lakukan, percayalah suatu hari anda akan menjadi seorang pelanggar kelas berat. Silahkan di uji? :D

Referensi :

Teori Broken Windows

Kasus New York City Transit Authority dan Vandalism dalam buku Tippin Point – Malcolm Gladwell

Gambar pinjam dari sini

Advertisement
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 261 other followers