Sikap Menasehati (Belajar dari seorang ibu yang tak dikenal)
Suatu hari, saya berada di daerah wisma BNI Sudirman dan akan berjalan menuju ke Sudirman Walk, daerah Setia Budi. Waktu itu masih sangat pagi dan jalanan Jakarta pagi itu seperti biasa, Macet. Motor dan mobil saling menyalip mendapatkan tempat di jalan, tak ketinggalan pula bangkai baja yang besar berisikan puluhan orang berkemeja berhenti di setiap pinggiran jalan sehingga menambah kacau kondisi jalan. Saya tak peduli, saya berjalan secepat mungkin semakin lama saya berada di tepian jalan yang kacau, saya semakin banyak menghirup gas-gas buangan kendaraan ini. Untungnya, jalan Jend.Sudirman memiliki area perjalan kaki yang cukup luas, sehingga kita tidak perlu turut ikut dalam kekacauan jalan raya.
Namun tidak berapa lama saya berjalan, tiba-tiba di depan saya datang segerombolan motor. Mereka memacu kendaraannya persis di jalan yang sama seperti jalan yang saya lewati. Seketika itu pula, saya merasa kesal dengan apa yang mereka lakukan. Area pejalan kaki yang tadi saya rasakan luas, sekarang memojokkan saya ketepian pagar. Saya terganggu tentu saja, hak-hak saya direbut oleh kesemena-menaan pengendara motor. Dalam keadaan itu, saya berhenti sejenak ditengah, kemudian berpikir. Apa yang akan saya lakukan? Menyetop mereka kemudian menasehati? Atau tiba-tiba menghadang mereka terus marah-marah? Atau cukup sekali tendangan sampai mereka tersungkur? Saya harus mengambil sikap atas apa yang mereka lakukan, namun saya tidak tahu mana jurus yang paling tepat untuk saya lakukan. Saya kebingungan. Read more…
Kesehatan : “Mencegah itu lebih baik”
Ketika berbicara pengobatan, maka perhatian kita telah tertuju pada sebuah sisi fundamental kehidupan yaitu kesehatan. Berbicara kesehatan kita akan menganalisis mengenai penyakit-penyakit yang berkembang, obat-obatan, para dokter dan rumah sakit, jaminan kesehatan dan asuransi dan sebagainya. Berbicara mengenai kesehatan, berarti mengambil sebuah pokok pembicaraan yang penting untuk terus kita diskusikan. Bukankah kesehatan merupakan faktor fundamental sebuah negara? Rakyat yang sehat akan memacu produktifitas suatu bangsa, dan rakyat yang sakit akan menurunkan produktifitas bangsa tersebut.
Saya sendiri bukan lah seorang yang ahli dalam kesehatan, bukan seorang dokter atau pula pakar yang telah banyak mengulas masalah kesehatan di negeri ini. Saya hanya mencoba memberikan sedikit alternatif dari sebuah keruwetan permasalahan kesehatan yang hampir sama di sebuah negara. Permasalahan kesehatan tersebut antara lain: biaya rumah sakit yang begitu tinggi, obat-obatan yang mahal, ketidak mampuan pasien dalam membayar, dana askes yang macet, praktek kerja sama obat dan dokter dan segala permasalahan yang lain. Kesehatan sendiri bukanlah hal yang bisa dilewatkan begitu saja, dan menunggu agar waktu bisa menyembuhkan permasalahannya. Menyelesaikan permasalahan kesehatan sama seperti mengurai benang kusut, membutuhkan kesabaran untuk mengurainya satu per satu hingga ketika benang terurai, barulah wajah benang itu kelihatan indah. Begitu juga dengan kesehatan, mengentaskan permasalahan kesehatan bukanlah persoalan yang mudah. Saya hanya membantu untuk mengurai “gulungan kusut” yang pertama.
Mencegah lebih baik dari pada mengobati
Saya ingat ketika suatu hari saya sakit demam, dan harus beristirahat di rumah. Ketika itu orang tua saya akan menghampiri, dengan sebuah kalimat wejangana “mencegah itu lebih baik dari pada mengobati”. Lebih baik tidak minum es, dari pada harus berbaring di rumah sakit beberapa hari karena harus operasi amandel. Lebih baik menjaga minum vitamin C sebelum sariawan meradang dan menyulitkan kita untuk menikmati makan-makanan enak. Semboyan “mencegah lebih baik dari pada mengobati” ini tentu sudah menjadi sebuah motto hidup nya mereka yang pernah terbaring sakit. Penggunaan semboyan seringkali ditujukan untuk pasien, mereka yang sakit. Namun pernah kah terpikir kepada kita, bagaimana jika semboyan ini kita terapkan di aparat kesehatan sebagai sebuah bentuk tindakan nyata?
Perawatan kesehatan konvensional berusaha menundukkan kematian, mengabaikan komunitas, menyalahkan korban, mendorong pasien menjadi pasif dan tergantung, dan bersikap masa bodoh terhadap lingkungannya
-Dr. Hunter Campbell “Patch” Adams, Patch Adams hal 68- Read more…
Beragama Islam
Tegakkan Islam di Hati kalian, niscaya Islam akan tegak di bumi kalian
-Syaikh Muhammah Bin Jamil Zainu-
Islam merupakan sebuah sistem kehidupan yang diatur oleh Alloh Azza wa Jalla untuk setiap manusia di permukaan bumi. Alloh Azza wa Jalla menciptakan manusia dengan satu tujuan, yaitu untuk beribadah kepada-Nya. Seperti di dalam Al-quran, Alloh Azza wa Jalla berfirman:
Dan tidaklah aku ciptakan Jin dan Manusia, melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku. – Quran Surat Adzzariyat (56)-
Oleh sebab itu, ketika kita terlahir di bumi ini itu merupakan kehendak dari Alloh Azza wa Jalla untuk menghidupkan kita dan kemudian beribadah kepadaNya. Dalam kalimat yang indah, Ustad Murtadho dalam salah satu khutbah jum’atnya berpesan;
Setiap jiwa-jiwa manusia, mau di muslim atau tidak. Telah ada di pundak-pundaknya kewajiban untuk menyembah Alloh. Telah ada kewajiban di pundak-pundaknya untuk mengikuti segala aturan yang telah Alloh syariatkan untuk mahkluknya. Entah itu dia suka atau tidak!
Kita-lah manusia yang memiliki beban-beban kewajiban itu. Kita manusia yang diciptakan oleh Alloh Azza wa Jalla dari segumpal darah, menjadi manusia tegak yang dapat berjalan. Menjadi manusia, berarti kita telah masuk kedalam sebuah sistem Syariat Alloh Azza wa Jalla ; dimana dalam syariat Alloh Azza wa Jalla ada hak dan ada pula kewajiban, ada yang halal dan haram, ada perintah dan ada larangan, ada baik dan ada buruk. Mau kita ikuti atau tidak, pertanggung jawaban hanya pada diri kita masing-masing, karena secara sadar atau tidak sadar Alloh Azza wa Jalla telah memberikan petunjuk di setiap hati-hati kita agar mengikuti segala aturan yang Alloh Azza wa Jalla tetapkan. Sekarang, tinggal kemana kita membawa hati kita, apakah menutupinya atau mengikutinya? Read more…
Hal kecil yang membawa perubahan besar; Sebuah Pelanggaran
Tahun 1980-an, merupakan tahun yang kelam dalam sejarah per-kereta apian di New York City. Selama di tahun tersebut telah terjadi rata-rata lebih dari 2000 pembunuhan dan 600.000 tindakan kekerasan serius dalam setahun. Kereta api menjadi sebuah momok yang menakutkan, stasiun peron gelap dan mencekam, berbau lembap serta setiap dinding kereta dipenuhi oleh coretan-coretan (grafitti). Disaat itu, kereta api bawah tanah sebagai sebuah transportasi utama masyarakat new york , menjadi sebuah momok yang menyeramkan. Menyadari akan hal itu, New York Transit Authority, sebuah lembaga perkereta-apian kota tersebut menyewa seorang konsultan, untuk mengatasi permasalahan perkereta-apian bawah tanah. Dia adalah David Gunn, yang menjadi direktur proyek rekonstruksi pembangunan sistem kereta api bawah tanah.
Di masa itu, banyak pejabat-pejabat direktoran perkereta-apian memberi masukan kepada David Gunn, agar memusatkan perhatian kepada penerapan sebuah sistem yang andal dan tidak memusingkan perkara-perkara kriminal kecil, seperti coret-coret grafitti. Menurut mereka, mempermasalahkan masalah-masalah kecil seperti grafitti merupakan hal konyol, yang diibaratkan oleh Malcolm Gladwell sama seperti mengepel geladak kapal Titanic ketika kapal tersebut hampir menabrak gunung es. Tindakan yang sia-sia. Read more…
Harapan, kecil namun berdampak besar!
Gepeto, ialah seorang pembuat boneka dari kayu. Ia menghabiskan banyak waktunya untuk membuat boneka – boneka dari kayu. Terlalu banyaknya waktu yang ia habiskan membuat ia tidak memiliki keluarga, tidak juga seorang anak. Keinginan mempunyai anak itu dapat terlihat ketika Gepeto membuat boneka-boneka anak laki-laki. Sampai suatu hari, ia mendapati di suatu pagi, salah satu boneka nya dapat berbicara. Kemudian ia memberi nama dengan nama Pinokio.
Cerita ini begitu terkenal, dari saya kecil hingga saat ini. Cerita Pinokio ini mengangkat nilai kejujuran seorang anak dan hukuman bagi anak yang suka berbohong. Bagaimana kebiasaan pinokio yang suka berbohong dan kemudian seorang peri menghukum dengan memanjangkan hidung pinokio. Namun itu tidak menjadi bahasan dalam cerita ini. Sebaliknya, saya ingin menceritakan sebuah cerita yang menarik, yang sering terlewatkan oleh para pencerita.
Kenapa Pinokio, sebuah boneka kayu dapat hidup bergerak di pagi harinya?
Dahulu ada sebuah legenda dari belahan eropa, mengenai seorang pemahat yang kesepian. Ia hidup seorang diri, dan sama seperti kakek gepeto, ia hidup dengan memahat, membuat patung. Suatu hari, pemahat tersebut memahat patung berbentuk seorang wanita. Patung itu akhirnya selesai dengan sangat mengagumkan, ia membuat patung seorang wanita yang cantik dan begitu anggun. Karyanya terasa begitu nyata, sampai-sampai ia jatuh cinta terhadap karyanya. Kecintaanya tersebut membuat ia kemudian memohon agar patung tersebut dapat menjadi nyata. Permohonan demi permohonan terus ia minta, sampai suatu ketika permohonannya didengar dan patung wanita tersebut menjadi seorang wanita yang hidup. Pemahat tersebut bernama Pygmalion. Nama pemahat tersebut kini menjadi terkenal dan cerita ini merupakan legenda terkenal dari negeri Romawi. Cerita ini dikenal dengan nama Pygmalion Effect / Efek pygmalion. Read more…
Ritme Kehidupan
Iya, walapun gajinya kecil tapi disini punya waktu buat keluarga. Uang kan bisa dicari.
-Ivan, 23 tahun, PNS-
Ivan, teman sekampus saya dahulu. Menurut saya, Ia telag membuat sebuah keputusan yang luar biasa. Ia memutuskan untuk pindah kerja dari sebuah perusahaan minyak luar negri menjadi seorang PNS biasa. Berbicara tentang gaji, siapa yang tidak tahu bayaran dari sebuah perusahaan minyak, begitu juga gaji karyawan PNS biasa. Tak usah ditanya nominal-nya berapa. Yang unik, ketika ia memutuskan untuk pindah, ia tidak termotivasi karena uang. Ia hanya memikirkan satu variabel utama, yaitu waktu.
jika memang hidup kita nikmat, tentu tidak buru-buru kita menghabiskan setiap harinya | via @ViaVi
Pernahkah anda menghabiskan waktu bersama orang-orang yang anda cintai? atau menghabiskan waktu dengan melakukan perkerjaan yang anda cintai? Bagaimana cara menghabiskannya?
Ia mungkin seperti sebungkus es krim yang sangat kita sukai, yang setiap sendoknya dinikmati perlahan-lahan. Merasakan rasa yang hadir ketika es itu ada dilidah, kemudian menelannya perlahan-lahan. Lezat dan dinginnya es tersebut, mampu membekukan waktu, yang tersisa hanya kita dan segelas es krim. Ia seperti menikmati secangkir kopi aceh yang kental dan hitam. Menghirup aroma-nya yang khas, kemudian menyesap-nya pelan-pelan. Secangkir kopi yang tidak ingin dihabiskan dalam waktu singkat, seakan akan moment itu moment untuk selamanya, moment yang pantas dikenang. Moment itu sama seperti kita duduk bersama orang yang kita cintai, tak peduli jika memang tak ada perkataan atau candaan, duduk bersama sudah cukup untuk mewakili segala-galanya.
mereka yg berpacu dgn waktu adalah mereka yg sering alpa dlm menikmati hidup itu sendiri. | via @ViaVi Read more…





